shababjo.net, Pilpres 2019 – Ketua Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi, Djoko Santoso mengajak negara dan bangsa Indonesia untuk merevitalisasi nasionalisme. Pasalnya, saat ini rasa nasionalisme bangsa sudah luntur.

“Kita perlu merevitalisasi nasionalisme. Nasionalisme kita sudah luluh. Kalau dihadapkan kapitalisme kita kalah, makanya kita perlu merevitalisasi nasional,” kata Djoko saat ngopi Bareng Djoksan di Kopi Bos, Tebet, Jakarta Selatan, Kamis (27/12/2018).

Menurutnya, luluhnya rasa nasionalisme tersebut disebabkan mental kapitalisme yang bisa mengendalikan hal dengan uang. Dia mencontohkan calon kepala daerah yang harus merogoh kocek sebesar Rp 20 miliar. Kemudian, tak lama setelah menjabat, malah tertangkap karena korupsi dan dipenjara.

“Kenapa kita bisa luluh? karena kita dikendalikan kapitalisme, kapitalisme itu pelurunya duit, semuanya diukur dengan duit,” ucap dia.

Dia menilai, kondisi seperti ini layaknya masa Belanda yakni VOC di mana bangsa pernah dijajah. “Proses VOCnisasi maka kita harus melawan menyelamatkan negara ini agar bangsa ini tidak menderita,” pungkas purnawirawan Jenderal itu.

Selain itu, Djoko menekankan, capres Prabowo Subianto bakal melindungi semua golongan jika menjadi capres. Menurutnya, Prabowo tak akan mengkriminalisasi etnis Tionghoa.

“Pertama yang mencalonkan Ahok itu siapa? Prabowo ya yang calonkan. lah itu. Dan kita ini orang yang dididik di akademi militer itu berdiri diatas semua golongan,” kata Djoko.

Djoko memberi contoh saat dirinya menjabat Ketua Umum Pengurus Besar Persatuan Bultangkis Seluruh Indonesia (PBSI). Dia mengatakan, banyak atlet keturunan Tionghoa yang berjasa dan punya rasa nasionalisme sangat tinggi. Maka itu, anggapan kriminalisasi Tionghoa hanya tergantung pandangan orang.

“Jadi jangan khawatirlah. Itu Prabowo kawan Cina banyak juga. Kita sama-sama aktif di olahraga. Banyak keturunan Tionghoa berprestasi di olahraga dan memang nama Indonesia naik karena atlet dari keturunan Tionghoa, terutama di bultang,” jelasnya.

Mantan Panglima TNI itu menilai sudah biasa jika ada isu-isu liar yang selalu digoreng jelang Pilpres. Menurutnya, tudingan Prabowo keras terhadap etnis Tionghoa hanya dibuat-buat supaya Tionghoa tak memilih Prabowo. Dia meminta etnis Tionghoa tak perlu khawatir.

“Itu menjadi isu, menjadi ini, karena waktu pilpres itu ada yang isuin prabowo. ‘hati-hatiloh, kalau prabowo naik nanti dibunuhin’. ya itu enggak mungkin lah. Banyak atlet silat juga banyak juga. Seperti contoh Pak Jokowi disebut PKI, itu ya enggak mungkin lah. Orang Pak Jokowi lahir tahun 1961,” ujar Djoko Santoso.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here