Jakarta, Berita Terkini – Ruangannya hanya berukuran sekitar 2,5 x 3,2 meter. Namun, penghuninya tidak akan kegerahan karena ada pendingin udara. Ada juga televisi layar datar yang siap memanjakan para koruptor yang suka kemewahan.

Tak hanya itu, dalam sel tertentu di Lapas Sukamiskin, Bandung, para narapidana kasus korupsi juga dapat menikmati rak buku, lemari es, spring bed, washtafel, kamar mandi lengkap dengan toilet duduk dan pemanas air. Namun, tidak gratis. Mereka harus menyuap pejabat lembaga pemasyarakatan hingga ratusan juta rupiah.

Fasilitas wah di penjara khusus para koruptor itu terkuak saat penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) melakukan operasi tangkap tangan (OTT). Operasi itu dilakukan pada Jumat 20 Juli malam hingga Sabtu 21 Juli dini hari.

Hasil gambar untuk /koruptor-suka-mewah-di-lapas-sukamiskin

Terbongkarnya praktik pemberian fasilitas istimewa kepada narapidana di Lapas Sukamiskin ini membuat KPK menilai pemberantasan korupsi semakin sulit terwujud. “Karena efek jera terhadap pelaku korupsi sulit akan direalisasikan,” ujar Juru Bicara KPK Febri Diansyah, Minggu (22/7/2018).

Tak hanya itu, Febri mengatakan, kerja keras penyidik dan penuntut umum untuk membuktikan kasus para koruptor juga akan sia-sia. Sebab, meski telah ditahan di Lapas, para narapidana korupsi masih menikmati fasilitas mewah dan bebas keluar masuk tahanan.

“Kerja keras penyidik dan penuntut umum (KPK) memproses dan membuktikan kasusnya menjadi nyaris sia-sia jika terpidana korupsi masih mendapat ruang transaksional di Lapas dan menikmati fasilitas berlebihan dan bahkan dapat keluar masuk tahanan secara leluasa,” jelas Febri.

KPK berharap agar OTT di Lapas Sukamiskin menjadi peringatan bagi seluruh Kalapas di seluruh Indonesia agar tak melakukan hal serupa. OTT tersebut juga dapat menjadi bahan evaluasi Kementerian Hukum dan HAM (Kememkumham) terhadap lapas di Indonesia.

“Kami sambut baik, jika Kemenkumham serius melakukan perbaikan seperti yang disampaikan kemarin. Sepanjang hal tersebut dilakukan secara sungguh-sungguh dan terus menerus,” kata Febri.

Dalam OTT ini, KPK menangkap dan menahan Kepala Lapas Sukamiskin Wahid Husein dan stafnya Hendry Saputra sebagai terduga penerima suap, serta Fahmi Darmawansyah, narapidana kasus korupsi dan Andri Rahmat sebagai pemberi suap.

Selain itu, aktris Inneke Koesherawati sebagai istri Fahmi Darmawansyah juga sempat diamankan KPK saat OTT dilakukan. Namun, setelah menjalani pemeriksaan, KPK melepaskan Inneke dan menjadikannya sebagai saksi.

“Diduga sebagai penerima suap yakni Wahid Husein Kepala Lembaga Permasyarakatan Sukamiskin sejak Maret 2018; Hendry Saputra, Staf Wahid. Diduga sebagai pemberi Fahmi Darmawansyah, narapidana kasus korupsi dan Andri Rahmat, narapidana kasus pidana umum (tahanan pendamping Fahmi),” ujar Wakil Ketua KPK Saut Situmorang di Gedung KPK Jakarta, Sabtu 21 Juli 2018.

Fahmi Darmawansyah selaku Direktur Utama PT Merial Esa merupakan napi kasus suap kepada pejabat Badan Keamanan Laut (Bakamla). Dia juga telah divonis penjara 2 tahun 8 bulan dan denda Rp 150 juta, subsider 3 bulan kurungan oleh majelis hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta.

Sementara dalam kasus ini, Wahid Husein diduga menerima uang dan 2 mobil dalam jabatannya sebagai Kepala Lapas Sukamiskin sejak Maret 2018 terkait dengan pemberian fasilitas, izin Iuar biasa, dan lainnya yang tidak seharusnya kepada narapidana tertentu.

“Diduga pemberian dari Fahmi tersebut terkait fasilitas sel atau kamar yang dinikmati oleh Fahmi dan kemudahan baginya untuk dapat keluar masuk tahanan (Lapas Sukamiskin),” terang Wakil Ketua KPK Laode M Syarif.

  1. Hasil gambar untuk /koruptor-suka-mewah-di-lapas-sukamiskin

Dalam OTT tersebut, KPK juga mengamankan sejumlah barang bukti yang diduga terkait tindak pidana yaitu 2 unit mobil, yaitu 1 unit Mitsubishi Triton Exceed warna hitam dan 1 unit Mitsubihi Pajero Sport Dakkar warna hitam. Kemudian uang Rp 279.320.000 dan USD 1.410, catatan-catatan penerimaan uang dan dokumen terkait pembelian dan pengiriman mobil.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here