shababjo.net, Pilpres 2019 – Timses Jokowi-Ma’ruf Amin meragukan Gerakan Revolusi Putih yang digagas Prabowo Subianto. Wakil Ketua Tim Kampanye Nasional Koalisi Indonesia Kerja (TKN KIK) Abdul Kadir Karding menilai konsepnya tak matang.

“Menurut saya itu adalah satu konsep gerakan yang tidak realistis dan tidak membumi sama sekali, yang jauh dari konsep yang matang, konsepnya sangat parsial,” ujarnya saat dimintai konfirmasi oleh wartawan, Rabu (17/10/2018).

Revolusi Putih dijadikan Prabowo sebagai landasan Gerakan Indonesia Emas. Bentuknya dengan memberikan asupan protein berupa susu kepada masyarakat.

Karding menilai, masyarakat bisa mendapat protein dari bahan makanan lain. Dari sisi biaya pun, harga susu lebih besar dibanding sumber protein lain.

“Susu sendiri dan daging itu kita tahu masih impor, dia import sehingga sangat sulit untuk impor dan mahal,” jelasnya.

Kebutuhan protein secara keseluruhan, menurut Karding, harus bisa diakses anak-anak Indonesia. Ia mengingatkan, sumber dan kualitas protein yang bagus di antaranya dari ikan, telur, dan kacang-kacangan.

“Kenapa tidak didorong pemenuhan gizi dari local wisdom kita. Jadi potensi yang ada di daerah kita. Misalnya untuk orang-orang Indonesia Timur kita dorong untuk memakan ikan, memperbanyak konsumsi ikan,” kritiknya kepada gagasan Prabowo.

Lebih Murah

Politikus PKB itu memaparkan, harga daging sekitar Rp 200-an per Kilogram. Sementara, lele hanya Rp 25 ribu.

Kedua jenis bahan makanan itu dinilainya punya kandungan protein tinggi.

“Itu yang saya sebut konsumsi susu, gerakan konsumsi susu, atau gerakan revolusi putih itu adalah gerakan yang tidak membumi,” ia menambahkan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here