shababjo.net, Berita Terkini –  Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) makin perkasa pada sesi pertama perdagangan saham, Rabu (6/2/2019). Penguatan tersebut terjadi usai rilis data ekonomi Indonesia pada 2018.

Berdasarkan data RTI, selama sesi pertama, IHSG bergerak di zona hijau. IHSG naik 62,66 poin atau 0,97 persen ke posisi 6.544,08. Indeks saham LQ45 menguat 1,29 persen ke posisi 1.037. Sebagian besar indeks saham acuan menguat.

Sebanyak 255 saham menguat sehingga mengangkat IHSG. Sedangkan 131 saham melemah dan 130 saham diam di tempat. Selama sesi pertama, IHSG sempat berada di level tertinggi 6.546,19 dan terendah 6.503,57.

Total frekuensi perdagangan saham sekitar 240.225 kali dengan volume perdagangan 8 miliar saham. Nilai transaksi harian saham Rp 5 triliun. Posisi dolar Amerika Serikat (AS) melemah ke posisi Rp 13.888 per dolar AS.

Secara sektoral, sebagian besar sektor saham menguat kecuali sektor saham tambang turun 0,14 persen. Sektor saham infrastruktur menguat 2,21 persen, dan mencatatkan penguatan terbesar. Disusul sektor saham konstruksi mendaki 1,75 persen dan sektor saham industri dasar mendaki 1,13 persen.

Saham-saham yang menguat antara lain saham KONI mendaki 20,19 persen ke posisi Rp 500 per saham, saham ARMY melonjak 13,89 persen ke posisi Rp 328 per saham, dan saham MFMI mendaki 12,15 persen ke posisi Rp 600 per saham.

Sedangkan saham-saham yang tertekan antara lain saham OCAP melemah 34,12 persen ke posisi Rp 112 per saham, saham MABA tergelincir 23,66 persen ke posisi Rp 70 per saham, dan saham ARTA merosot 15,28 persen ke posisi Rp 970 per saham.

Bursa saham Asia sebagian tutup karena peringatan hari raya Imlek. Sementara itu, indeks saham Jepang Nikkei menguat 0,21 persen dan indeks saham Thailand mendaki 0,42 persen.

Penguatan IHSG terjadi di tengah rilis data Badan Pusat Stastik (BPS). BPS melaporkan ekonomi Indonesia tumbuh 5,17 persen pada 2018.

Badan Pusat Statistik (BPS) merilis pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal IV-2018 sebesar 5,18 persen secara year on year (yoy). Angka ini naik tipis jika dibandingkan pertumbuhan ekonomi pada kuartal III-2018 yang hanya 5,17 persen.

Kepala BPS, Suhariyanto, menyampaikan secara kumulatif, pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan dari kuartal I-IV 2018 mencapai 5,17 persen. Namun, secara kuartal ke kuartal, pertumbuhan ekonomi Indonesia menurun sebesar 1,69 persen.

“Ekonomi indonesia tumbuh 5,18 persen kalau dibandingkan kuartal IV-2017. Jadi pertumbuhan ekonomi Indonesia 2018 5,18 persen dibandingkan kuartal III-2018 kuartal ke kuartal (q to q) minus 1,69 persen,” ujar Kepala BPS Suhariyanto di kantornya, Rabu (6/2/2019).

Suhariyanto menjelaskan, laju pertumbuhan kuartal IV-2018 ini juga lebih rendah dibandingkan periode yang sama pada 2017 sebesar 5,19 persen. Namun, pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang tahun 2018 sebesar 5,17 persen jauh lebih baik sejak 2014 lalu.

“Dengan pertumbuhan ekonomi indonesia 5,18 persen maka sepanjang 2018 sebesar 5,17 persen. Ini tren yang bagus sekali terbaik sejak tahun 2014 ke depan banyak kebijakan ekonomi Indonesia lebih bagus di tengah ekonomi global tidak tentu arahnya,” tutur dia.

Berdasarkan data BPS, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2014 hanya mencapai 5,01 persen. Kemudian, untuk 2015 menurun menjadi 4,88 persen. Di 2016 menunjukan kenaikan kembali sebesar 5,03 persen, dan pada 2017 mencapai sebesar 5,07 persen.

“Saya akan bilang 5,17 sepanjang 2018 capaian yang cukup menggembirakan,” ujar dia.

Sebelumnya, Deputi Bidang Koordinasi Ekonomi Makro dan Keuangan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Iskandar Simorangkir, memprediksi pertumbuhan ekonomi pada 2018 capai 5,2 persen.

“Karena 3 triwulan tahun 2018 saja sudah 5,17 persen. Dengan perkiraan pertumbuhan triwulan IV sebesar 5,2 persen maka pertumbuhan 2018 mendekati kisaran 5,2 persen,” ujar Iskandar melalui pesan singkat, Jakarta, Senin 4 Februari 2019.

Iskandar mengatakan, faktor pendukung pertumbuhan ekonomi sepanjang 2018 adalah konsumsi dan investasi. Sementara itu ekspor belum terlalu menggeliat disebabkan oleh perlambatan yang terjadi selama beberapa bulan.

“Kalau ekspor mesti di nett dengan impor yang hasilnya mendekati 0. Jadi kalaupun ekspor melambat tapi nett nya hampir 0. Dengan melihat perkembangan tersebut dan pertumbuhan konsumsi 5,1 persen akibat pilpres dan pileg,” kata dia.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here